Popular Posts

Tuesday, November 29, 2011

Raih Pahala Puasa Setahun Dengan Puasa Enam Hari di Bulan Syawal

Raih Pahala Puasa Setahun Dengan Puasa Enam Hari di Bulan Syawal


Dari Abu Ayyub al-Anshari-semoga Allah meridhaiya-bahwa Rasulullah Saw bersabda:

« مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ »

“Siapa saja yang telah berpuasa Ramadhan, kemudian diikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti puasa setahun.” (HR. Muslim, Abu Dawud, Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Darimi. Sementara Bazzar meriwayatkan hadits yang sama dari jalan Abu Hurairah ra.).

Dari Tsauban bahwa Rasulullah Saw bersabda:

« صِيَام شَهْر رَمَضَان بِعَشْرَةِ أَشْهُر وَصِيَام سِتَّة أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ بِشَهْرَيْنِ فَذَاكَ صِيَام سَنَةٍ »

“Puasa sebulan Ramadhan-sama-dengan puasa sepuluh bulan. Dan puasa enam hari di bulan Syawal-sama-dengan puasa dua bulan. Dengan demikian sama dengan puasa setahun.” (HR. Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubrâ).

Sementara Ibnu Majah, Ahmad, Darimi, Ibnu Hibban dan Baihaki meriwayatkan dengan lafadh matan Ibnu Majah:

« مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ. مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا »

“Siapa saja yang berpuasa enam hari setelah ‘Idhul Fithri, maka puasa enam hari itu penyempurna puasa setahun. Barangsia yang melakukan kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan serupa.” Hadits ini sanadnya shahih.

Dari Abu Ayyub bahwa Rasulullah Saw bersabda:

« مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ فَكَأَنَّمَا صَامَ الدَّهْرَ »

“Siapa saja yang telah berpuasa Ramadhan, kemudian diikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka seakan-akan ia telah puasa setahun.” (HR. Muslim).

Dari Abu Ayyub juga bahwa Rasulullah Saw bersabda:

« مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصَوْمِ الدَّهْرِ »

“Siapa saja yang telah berpuasa Ramadhan, kemudian diikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti puasa setahun.” (HR. Abu Dawud).

Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 30/8/2011.

BENTENG UMAT

Benteng Umat


Oleh: Muhammad Rahmat Kurnia

Ramadhan telah berlalu. Di tengah kekhusyukan Ramadhan tahun ini umat Islam disuguhi pemandangan yang menyakitkan. Ramadhan yang mestinya menjadi momentum penyatuan umat Islam tidak terjadi. Sebut saja Somalia. Di negeri Muslim Somalia tengah terjadi kelaparan. PBB melaporkan 3,7 juta orang (separuh penduduk) di negara yang berpenduduk 9,3 juta dengan mayoritas Muslim ini dilanda kelaparan.

Tanggapan dari pemerintahan Muslim yang kaya hampir tak berarti. Penguasa Muslim yang menjadi boneka Barat tidak begitu peduli. Mereka lebih memilih membelanjakan harta hasil korupsinya untuk perkara yang tidak penting. Qatar, misalnya, membelanjakan $430 juta untuk membeli suatu hasil karya seni AS. Padahal uang sejumlah itu dapat digunakan untuk memberi makan 4,3 juta orang, tiga kali makan sehari, selama satu bulan penuh (sekali makan perorang Rp 10.000). Sungguh memilukan.

Saat anak-anak binasa karena kekurangan gizi, para penguasa Muslim sibuk membeli bank-bank AS yang bangkrut, membeli vila indah atau klub sepakbola Eropa. Sekadar contoh: Syeikh Mansour membeli Manchester City dengan harga Rp 2,8 triliun, Sulaiman Al-Fahim mengakuisi Portsmout Rp 986,7 milliar, Pangeran Faisal bin Fahd bin Abdullah dari Saudi berniat membeli Liverpool dengan kisaran harga Rp 5,15 triliun! Padahal saat bulan Ramadhan, al-Quran dibaca sampai khatam. Apa yang ada di dada kita saat membaca ayat (yang artinya): Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin (TQS al-Ma’un [107]: 1-3).

Apakah kelaparan yang dirasakan saudara kita di Somalia tidak kita rasakan di sini? Terbayangkah oleh kita rintihan mereka di sana ketika kita sedang makan ketupat dengan lauk-pauknya yang serba mewah? Bukankah Muslim itu saudara Muslim lainnya? Bayangkan, bila umat Islam ini punya khalifah sebagai pemimpin; mereka pasti akan ada yang memperhatikan.

Di tengah kesungguhan kita menjaring Lailatul Qadar, di Amerika Serikat (AS) telah diterbitkan sebuah buku berjudul: We Shall not Forget 9/11, The Kids’ Book of Freedom (Kami Tidak Akan Pernah Lupa 9/11-Buku Bebas untuk Anak-anak), yang ditulis oleh Wayne Bell. Di antara tulisannya berbunyi, “Hai, anak-anakku, yang benar adalah, bahwa inilah tindakan teroris yang dilakukan oleh para ekstremis Islam yang benci akan kebebasan…Mereka adalah orang-orang gila yang membenci cara hidup Amerika, sebab kami orang-orang yang merdeka dan masyarakat kami hidup bebas.”

Padahal hingga sekarang pengadilan tentang hal tersebut belum pernah digelar. Justru banyak peneliti independen dari AS sendiri menyatakan bahwa pelaku peledakan WTC itu adalah AS sendiri. Buku ini sungguh telah melukai perasaan kaum Muslim. Penulisnya dengan sengaja mengobarkan kebencian terhadap Islam. Umat Islam pun tidak bereaksi apa-apa. Diam. Padahal al-Quran menegaskan (yang artinya): Mereka mengharapkan kehancuran kalian. Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih jahat (QS Ali ‘Imran [3]: 118).

Di Libya, Qaddafi dengan dukungan Barat, membunuhi rakyatnya sendiri. Namun, rakyat terus berjuang. Di antaranya Hizbut Tahrir sebagai kelompok yang bahkan melakukan perlawanan terhadap kezaliman Qaddafi sejak hari pertama rezim itu berkuasa. Bahkan Hizbut Tahrir telah mempersembahkan sejumlah syuhada dalam menentang kezaliman Gaddafi dan rezimnya itu. Setelah rezim tiran Qaddafi jatuh, negara-negara imperialis mulai bersaing untuk mengeksploitasi minyak Libya. Lagi-lagi, negeri Muslim menjadi rebutan negara penjajah. Mengapa? Sebab, umat Islam tidak memiliki khalifah sebagai benteng yang menjaganya.

Begitu juga di Suriah. Sejumlah ulama senior dan intelektual mengutuk serangan berulang oleh rezim Suriah terhadap rumah-rumah Allah, para ulama dan setiap tempat suci, pada bulan Ramadhan. Penyerangan terbaru dilakukan terhadap ulama senior Suriah, Syaikh Usamah ar-Rifa’i. Sejumlah unjuk rasa antipemerintah dilaporkan terjadi di berbagai tempat di Suriah setelah salat Idul Fitri hari Selasa (30/8). Ribuan orang turun ke jalan-jalan termasuk di Ibukota Damaskus. Namun, pasukan keamanan justru melakukan penembakan yang menewaskan paling tidak tujuh orang. Penguasa Muslim lain membisu terhadap realita ini. Padahal bukankah mereka membaca hadis Rasulullah saw.: “Seorang Mukmin bagi Mukmin lainnya laksana satu bangunan yang saling menopang satu sama lain (Beliau mengeratkan jari-jemari beliau satu sama lain).” (HR al-Bukhari).

Lagi-lagi nyawa umat Islam tertumpah murah. Kita sungguh butuh khalifah yang menjaga kehormatan darah umat Muhammad ini.

Di Indonesia, perbedaan hari Idul Fitri juga mengherankan. Hanya karena suara terbanyak menghendaki lebaran pada hari Rabu (31/8/2011), kesaksian terlihatnya hilal di beberapa tempat oleh sejumlah orang terpercaya dan telah disumpah, justru ditolak. Padahal dengan merujuk pada qawl dan fi’l Rasulullah saw. jumhur ulama menyatakan bahwa kesaksian rukyat hilal awal dan akhir Ramadhan dapat diterima dari seorang saksi Muslim yang adil. Suara mayoritas dan perkataan ahli astronomi mengalahkan hukum syariah. Akhirnya, banyak orang berbuka pada hari selasa, sekalipun shalat Id ikut hari Rabu. Padahal laporan dari beberapa negara lain pun, termasuk Makkah dan Madinah, hilal telah terlihat malam selasa. Belum lagi muncul rumor bahwa Saudi meralat keputusan Idul Fitri pada Selasa (30/8/2011). Hal ini langsung dibantah oleh pihak Saudi. Memang, ada pihak yang tidak menghendaki persatuan kaum Muslim sedunia. Tidak berlebihan bila Dr. Ali Jum’ah, Mufti Agung Mesir, menjelaskan bahwa entitas Zionis berada di belakang rumor ketidakabsahan hilal Syawal, yang dibesar-besarkan oleh media baru-baru ini. Jum’ah mengatakan, “Dunia Islam sangat menginginkan persatuan, bahkan ingin merayakan Idul Fitri yang berkah ini secara serempak di hari yang sama.”

Wajar saja hal ini terjadi, sebab umat Islam tidak memiliki khalifah sebagai pemersatu dan benteng umat.

Berkaitan dengan hal ini kita patut merenungkan sabda Rasulullah saw., “Sesungguhnya imam/khalifah itu adalah benteng.“ (HR Muslim dalam kitab Shahih Muslim, VI/17).

Imam as-Suyuthi memaknai hadis ini dengan mengatakan, “Sesungguhnya imam/khalifah itu adalah benteng, maksudnya laksana perisai. Sebab, ia mencegah musuh menyakiti kaum Muslim dan mencegah manusia menyakiti satu sama lain; juga menjaga Islam serta melindungi masyarakat dari kaum kafir dan pembangkang Islam.”

Sunday, September 18, 2011

Mukhtar Lutfie, ST., MT, "Putuskan Benang Itu!"

Mukhtar Lutfie, St., Mt, "Putuskan Benang Itu!"


Dear Mukhtar Lutfie, St., Mt,



Keberhasilan ditentukan oleh ukuran

keyakinan kita untuk meraih kemenangan!



Ada pepatah mengatakan...



Apa yang sedang kita pikirkan, itulah

yang sedang terjadi, atau akan terjadi.





Oleh sebab itu... latihlah diri, hati, dan

pikiran untuk selalu merespon

hanya pada hal-hal yang positif!

Latihlah ia terus menerus...

bukan hanya sesaat, tapi berkesinambungan...

sepanjang waktu!



Salam hangat dari temanmu,



Anne Ahira

Asian Brain IMC

http://www.AsianBrain.com

http://www.AnneAhira.com - Untuk Indonesia







---------------------------

Artikel Utama:

---------------------------

Putuskan Benang Itu!



Ditulis oleh: Anne Ahira



Mukhtar Lutfie, St., Mt,





"Seutas benang itu sesungguhnya hanya

ada dalam pikiran Anda!"



Ada kisah nyata tentang seekor gajah.

Sejak kecil ia sudah dirantai kakinya

dengan seutas rantai sepanjang 4 meter.



Apa yang terjadi ketika rantai itu

diganti dengan seutas benang?



Gajah itu tetap saja berkeliling & tidak

berani melangkah keluar dari area

lingkaran 4 meter tersebut!



Dari kisah ini, pelajaran apa yang

bisa kita ambil?





Maaf, saya tidak bermaksud menyamakan

diri kita dengan seekor gajah. :-)



Namun bisa jadi, kita pun memiliki

'keterbelengguan' dengan seutas tali

yang mengikat diri kita!



Kita tidak berani keluar dari zona yang

dianggap nyaman. Meski sesungguhnya,

kita bisa melakukan banyak hal hebat

dari perkiraan kita!



Mari kita jujur pada diri sendiri,

berapa banyak kesempatan yg sebenarnya

hadir, melintas di depan Mukhtar Lutfie, St., Mt, namun

Mukhtar Lutfie, St., Mt tidak mempedulikannya?



Mukhtar Lutfie, St., Mt mungkin menganggap peluang itu



'terlalu tinggi' untuk Mukhtar Lutfie, St., Mt, dan

merasa tidak pantas berada disana.



Atau mungkin Mukhtar Lutfie, St., Mt malah merasa tidak

mampu untuk melakukan hal itu padahal

sama sekali belum pernah mencobanya?



Kita semua tahu, segala hal yang



menurut kita 'begitu hebat', seringkali

tidak selalu seperti yang kita

bayangkan.



Atau hal yang kita anggap sulit,

kadang sebenarnya sangat gampang!



Ada dua kunci dalam hal ini :





1. Mukhtar Lutfie, St., Mt akan bisa jika Mukhtar Lutfie, St., Mt berpikir bisa

2. Mukhtar Lutfie, St., Mt akan gagal jika Mukhtar Lutfie, St., Mt berpikir gagal



So, jangan menyalahkan siapapun jika

kesuksesan belum menghampiri diri kita.

Sebab, faktor utamanya terletak pada



diri kita sendiri.



Oleh sebab itu, perhatikan dengan

seksama, dan tanya pada diri sendiri,

adakah seutas benang yang telah

membelenggu diri kita selama ini?



Jika ya, maka segeralah untuk putuskan

benang itu!



Cobalah bergerak maju dari lingkaran

yang selama ini kita buat dan telah

membelenggu diri kita sendiri!



Peluang itu sebenarnya selalu hadir

kapan saja. Namun, karena kita selalu

saja menutup mata, telinga, dan pikiran

kita, maka peluang itu akan terlewat

begitu saja!



Jika Mukhtar Lutfie, St., Mt masih saja ragu untuk

melangkah, cobalah untuk melatihnya

sedikit demi sedikit. Dan jika Mukhtar Lutfie, St., Mt

sudah yakin, maka segeralah berlari cepat,
keluar dari keterbelengguan Mukhtar Lutfie, St., Mt

Jika sudah seperti ini, maka siapa lagi

yang diuntungkan, jika bukan Mukhtar Lutfie, St., Mt

sendiri? :-)
Minggu depan saya akan mengirimkan tips
"Bagaimana Cara Memaksimalkan Daya Tarik!"

yang akan saya tulis khusus untuk Mukhtar Lutfie, St., Mt!

Okay, sampai ketemu nanti! :-)
***************************************

TIPS: 7 Seni Memaksimalkan Daya Tarik :-)

TIPS: 7 Seni Memaksimalkan Daya Tarik :-)


Untuk...

Mukhtar Lutfie, St., Mt - Temanku Yang Luar Biasa!



Hati yg santun adalah ASET yg tak tertandingi dalam segala hubungan.

SIKAP BAIK adalah modal dalam hal apapun.

Oleh sebab itu, tunjukkanlah kualitas hati

melalui sikap & bawalah keluar hal terbaik

yang ada dalam diri kita. :-)



Di bawah adalah artikel terbaru

dari saya untuk Mukhtar Lutfie, St., Mt



Silakan dibaca. Semoga bermanfaat! :-)

Salam hangat dari sahabatmu,
Anne Ahira

http://www.AsianBrain.com





---------------------------

Main Article :

---------------------------
Seni Memaksimalkan Daya Tarik

Oleh: Anne Ahira



Memiliki kepribadian yang menarik pasti
diidamkan setiap insan. Saya, Anda,

maupun siapa saja. Kehadiran pribadi

yang menarik selalu dinanti-nantikan

banyak orang. Ketiadaannya dirindukan.



Pertanyaannya, kualitas istimewa APA

yang ada pada manusia, yang bisa

membuat orang lain kagum dan terpesona?

Dan... ANDA-kah orangnya?



Sebagian orang mungkin berpikir hanya

orang-orang yang cantik, ganteng secara

fisik, pintar, atau bahkan kaya yang

memiliki daya tarik? Sebenarnya tidak

demikian!



Setiap orang berpotensi untuk menjadi

seorang insan yang memiliki daya tarik

tinggi, menjadi sosok yang dielu dan

diharapkan. Termasuk Mukhtar Lutfie, St., Mt sendiri!

Pesona Mukhtar Lutfie, St., Mt bisa ditumbuhkan dan

diciptakan dengan energi positif yang

Mukhtar Lutfie, St., Mt miliki.



Bagaimana memunculkan aura positif Mukhtar Lutfie, St., Mt

agar membuat ketertarikan bagi yang

lainnya?



Berikut adalah 7 Seni Memaksimalkan

Daya Tarik:



Teruslah Berbuat Baik Tanpa Pernah

Menghitungnya



Lakukan kebaikan layaknya menulis di

atas pasir dan pahatlah di batu untuk

setiap kesalahan yang Anda lakukan.



Artinya, lupakan setiap kebaikan Mukhtar Lutfie, St., Mt

kepada orang lain, tak perlu menghitung! :-)



Sikap seperti ini akan melatih keikhlasan,

dan pada saat terbiasa, Mukhtar Lutfie, St., Mt akan

merasakan arti puas yang sejati.



Merendahlah Agar Mukhtar Lutfie, St., Mt Menjadi Tinggi



Orang yang merendah justru banyak

disenangi orang lain. Lain halnya

dengan orang yang sombong, kerendahan

hati merupakan perwujudan dari

toleransi dan memiliki nilai yang

tinggi.



Kerendahan hati dan kedamaian saling

bertautan. Percayalah pada diri

sendiri, dan singkirkan keinginan untuk

selalu ingin membuktikan pada orang

lain.



Jagalah Kemurnian



Tampil 'apa adanya'. Jadilah diri

sendiri. Untuk memiliki daya tarik

kita tidak perlu menjadi orang lain.



Menjadi diri sendiri jauh lebih

bernilai ketimbang kita selalu ingin

tampil 'seperti orang lain'.



Jadilah Orang Yang Penuh Minat



Apa yang Mukhtar Lutfie, St., Mt katakan pada diri sendiri

tentang kehidupan, dan diri Mukhtar Lutfie, St., Mt

sendiri, dari hari ke hari, bisa memberikan

efek yang luar biasa.



Sepanjang waktu, lihatlah diri Mukhtar Lutfie, St., Mt sendiri

sebagai pribadi yang menarik. Pertahankan

perasaaan itu sejelas mungkin dalam pikiran.



Dengan sendirinya, 'alam' akan menarik

segala hal yang penting untuk

menyempurnakan perasaan dan pandangan

Mukhtar Lutfie, St., Mt itu.



Jadilah orang yang selalu ceria, penuh

harapan, dan buat dunia ini terpikat

pada Mukhtar Lutfie, St., Mt!



Wajah Ceria



Tertawa itu sehat. Buat wajah Mukhtar Lutfie, St., Mt

selalu ceria.



Saat kita tersenyum, otak akan bereaksi

dan memproduksi endorphin (zat alami

yang memindahkan rasa sakit). Selain

itu, senyuman akan membuat Mukhtar Lutfie, St., Mt bisa

rileks. Senyuman juga akan menebarkan

kegembiraan pada orang lain.



Tekankan dalam pikiran, saat Mukhtar Lutfie, St., Mt

bersama orang lain, bahwa senyuman

dapat memperpendek 'jarak' antar orang

lain.



Antusias dan Hasrat



Dua hal ini merupakan ibu yang

melahirkan sukses. Antusias dan hasrat

dapat mendatangkan uang, kekuatan dan

pengaruh. Hal besar tak akan dapat

dicapai tanpa antusias.



Yakin selalu pada apa yang Mukhtar Lutfie, St., Mt

kerjakan. Kerjakan tiap pekerjaan Mukhtar Lutfie, St., Mt

dengan penuh cinta. Masukan antusias

dalam pribadi Mukhtar Lutfie, St., Mt, maka ia akan

menciptakan hal yang luar biasa buat

Mukhtar Lutfie, St., Mt.



Tata Krama



Tingkah laku, kesopanan dan kebaikan

bisa membuat orang lain percaya pada

kita. Tata krama yang baik akan membuat
orang lain merasa nyaman dengan kita.
Tata karma merupakan sumber kesenangan, memberikan rasa aman, dan ini dilakukan
dengan menunjukan penghormatan pada oran lain. Bersikap sopanlah pada setiap orang
yang Mukhtar Lutfie, St., Mt kenal, tidak peduli status dan kedudukan mereka. Perlakukanlah
setiap orang dengan tata krama. Nah, bagaimana Mukhtar Lutfie, St., Mt, tidak sulit bukan? :-)
Nantikan tulisan saya yg lain minggu depan! :-)
Sampai ketemu nanti!


Temanmu, Ahira

Asian Brain Newsletter - Think & Succeed!

Kontribusi Anne Ahira & PT. Asian Brain

untuk menggali dan melejitkan potensi

masyarakat Indonesia!
Jika tulisan saya dirasa bermanfaat,

tolong sebarkan alamat situs ini kepada

teman-teman yang lain ya:

=> http://www.AsianBrainNewsletter.com

Terimakasih sebelumnya! :-)



******************************************

Metode Pemaknaan Kata dan Istilah

Metode Pemaknaan Kata dan Istilah
By osolihin


Assalaamu’alaikum wr wb



Seorang teman mengirimkan tulisannya kepada saya, meminta untuk dicek, dinilai dan diberikan tanggapan. Isinya cukup bagus. Tulisan yang saya tampilkan di blog saya ini sudah melalui proses diskusi dan editing, semoga bisa lebih memperkaya wawasan kita. Silakan dibaca dan diambil mannfaatnya.



Salam,



O. Solihin



==



Oleh Abu Aish al-Batawiy



Bahasa adalah sesuatu yang secara alami digagas manusia semenjak manusia diciptakan. Bahasa adalah kesepakatan antar manusia baik dalam lingkup kecil maupun besar. Dengan bahasa manusia lebih mudah menyampaikan maksud dan tujuannya kepada yang lain dengan berbagai cara. Sekarang ini paling tidak kita mengenal bahasa lisan dan tulisan yang kesemuanya mudah dipahami bagi orang yang memang berbahasa asli bahasa tersebut atau dengan sengaja mempelajari bahasa tersebut.



Bahasa ibu itulah sebutan bagi bahasa yang dikenal semenjak kecil dan biasanya akan selalu terbawa meskipun sudah dewasa dan jarang digunakan untuk percakapan sehari-hari. Contoh mudah orang yang berbahasa ibunya bahasa jawa ketika menghitung cepat secara tidak sadar akan tetap akan menggunakan bahasa jawa –ji, ro, lu, pat, ma,…….-, padahal bahasa tersebut sudah jarang sekali dipakai dalam percakapan sehari-harinya. Hampir setiap manusia punya keterikatan yang kuat terhadap bahasa ibu yaitu bahasa yang dikenalnya semenjak kecil. Bukan hanya di Indonesia saja, di Timur Tengah semenjak jaman jahiliyah-pun mereka sudah menyadari konsep bahasa ibu ini, kita mengetahui sejarah Rasulullah yang semenjak kecil sengaja dititipkan ke pengasuh yang berada di daerah Baduwi (pinggiran) agar bahasanya baik, karena pada masa itu saja bahasa Arab yang dipakai di kota sudah mulai rusak baik disengaja ataupun tidak.



Pengrusakan bahasa ini kadang memang terjadi secara alami, kadang juga memang disengaja oleh pihak tertentu dengan tujuan tertentu juga. Bahkan bukan hanya pengrusakan bahasa, pemusnahan bahasa juga menjadi salah satu cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan tertentu. Semenjak terjadinya perang pemikiran terlihat dengan jelas metode pengrusakan dan pengaburan bahasa menjadi salah satu metode Barat dalam merusak dan menghancurkan pondasi dasar kaum Muslimin. Dimulai dengan membelokkan makna kata-kata yang sudah jelas artinya hingga menjauhkan kaum muslimin dari bahasa aslinya yaitu bahasa Arab. Dan ketakutan mereka sudah sangat merasuk bahkan bahasa lain yang digunakan kaum muslimin-pun mereka upayakan untuk disimpangkan maknanya. Kita mengenali istilah Islam, jihad, iman, kufur, shalat, zakat sudah disimpangkan dari arti aslinya, dan banyak kaum muslimin yang begitu ketakutan ketika menggunakan kata ini dalam definisi aslinya. Dalam bahasa Indonesia istilah fundamental, fanatik juga menjadi istilah yang ditakuti oleh masyarakat.

JENIS KATA DAN ISTILAH DALAM MASYARAKAT



Dalam menggunakan kata untuk menyusun kalimat tidaklah bisa sembarangan, karena selain memiliki kaidah yang jelas, juga jangan sampai terjebak oleh pengaburan dan pengrusakan makna kata itu sendiri. Kata yang akan kita gunakan paling tidak bisa kita bagi menjadi dua macam:



1.Kata/istilah yang belum pernah/tidak pernah digunakan dalam masyarakat.

Rezim orde baru banyak sekali memperkenalkan istilah baru seperti canggih, ekonomis, efisien, repelita, swasembada, GBHN, dan banyak lagi istilah yang belum pernah terdengar dalam masyarakat. Kata/istilah baru seperti ini sah-sah saja diterjemahkan atau dimaknai atau diartikan sesuai dengan kehendak orang yang menciptakan atau memperkenalkan kata/istilah baru tersebut. Dan masyarakat baik skala kecil maupun besar umumnya tidak akan menolak kata/istilah baru ini, yang ada hanyalah seleksi alam, ketika masyarakat tidak menyukainya maka kata/istilah baru ini akan ditinggalan dan tidak pernah dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Propaganda orde baru menjadi contoh yang sangat nyata kata/istilah yang akhirnya ditinggalkan masyarakat seiring dengan runtuhnya rezim tersebut.



1.Kata/istilah yang sudah digunakan dalam masyarakat.

Kata/istilah yang digunakan sehari-hari oleh masyarakat sangat beragam, ada yang merupakan kata/istilah formal (resmi) maupun non-formal (pergaulan sehari-hari). Termasuk didalam kategori ini ialah kata-kata yang disepakati sebagai arti atau terjemahan dari kata-kata asing. Kata dan istilah resmi atau terjemahan dari bahasa asing bisa kita lihat dan cek dari kamus-kamus yang beredar dan menjadi rujukan dalam masyarakat.







MENGGUNAKAN KATA DAN ISTILAH YANG ADA DIMASYARAKAT







Hanya memang akan sering dijumpai kata dan istilah yang sudah bergeser dari makna aslinya, biasanya perubahan ini terjadi dalam bahasa non-formal yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Menghadapi kata dan istilah yang seperti ini, Syaikh Taqiyyuddin An-Nabhani membuat suatu kaidah bahwa dalam mendefinisikan kata dan istilah hendaklah memenuhi dua syarat, yaitu:



1.Jami’, yaitu merangkum semua arti dan makna yang terdapat pada kata atau istilah tersebut

2.Mani’, yaitu menyingkirkan arti dan makna yang seharusnya tidak termasuk kedalam definisi sebuah arti atau istilah

Dengan tetap mengacu kepada kedua syarat tersebut maka kemurnian bahasa akan tetap bisa terjaga. Kemurnian bahasa ini memang tidak terlalu krusial dalam kebanyakan bahasa yang ada di dunia saat ini, hanya untuk bahasa Arab adalah suatu yang sangat penting karena menyangkut bagaimana kaum muslimin memahami ajaran Islam.







Islam memiliki kaidah lebih detail dalam penggunaan kata dan istilah, yaitu membagi kata dan istilah menjadi dua, yang memiliki arti hakiki dan yang memiliki arti majasi.



Kata dan istilah hakiki ada tiga macam, yaitu:



1.Kata/istilah syara’

Makna hakiki syar’i (al-haqiqah al-lughawiyah asy-syar’iyah) adalah makna hakiki (bukan majazi) yang telah dialihkan dari makna lughawinya (makna bahasa), dikarenakan nash-nash syara’ telah memberikan tambahan makna yang lebih dari sekedar makna bahasanya. Contohnya adalah kata (lafazh) sholat, shaum, zakat, haji, jihad, islam, iman, dan sebagainya.



Kata sholat secara lughawi (bahasa), yang diambil dari kamus-kamus bahasa Arab, artinya adalah ad-du’a (doa). Tapi nash-nash syara’ (khususnya hadits Nabi) telah menjelaskan tatacara Nabi shalat, sehingga kita tidak dapat lagi mengartikan nash syara’ yang menyebut “shalat” dengan arti bahasanya (doa), sebab sudah tambahan makna dari sekedar makna bahasanya. Shalat secara syar’i lalu diartikan suatu kumpulan perbuatan dan perkataan (doa) yang diawali takbir dan diakhiri salam.



Kata shaum secara bahasa, sebagaimana terdapat dalam kamus-kamus bahasa Arab, artinya adalah al-imsaak (menahan diri). Tapi nash-nash syara’ (Al Qur`an khususnya Al Baqarah : 187) dan juga hadits-hadits Nabi memberikan makna tambahan dari kata shaum itu, yaitu menahan diri dari makan, minum, hubungan seksual, dan hal-hal yang membatalkan shaum dari subuh sampai malam (maghrib) disertai niat. Inilah makna syar’i dari shaum.



1.Kata/istilah urf

Adapun makna hakiki urfi (al-haqiqah al-lughawiyah al-‘urfiyah) adalah makna hakiki (bukan majazi) yang telah menjadi urf (kebiasaan) orang Arab dalam mengartikan suatu kata. Contohnya kata daabbah. Kata daabbah makna lughawinya adalah segala makhluk yang melata di muka bumi (termasuk hewan dan manusia). Namun secara urfi orang Arab lalu menggunakan kata daabbah dalam arti dzawatul arba’ (hewan berkaki empat) seperti sapi, tidak termasuk manusia.



1.Kata/istilah lughawi

Adapun makna hakiki lughawi (al-haqiqah al-lughawiyah al-wadh’iyah) adalah makna hakiki (bukan majazi) yang menunjuk pada arti asalnya secara bahasa. Contohnya, kata rajulun (lelaki), imra`ah (perempuan), asad (singa), jamal (unta), saif (pedang), dan sebagainya banyak sekali.



MANA YANG HARUS DIPILIH : MAKNA HAIKIKI ATAU MAKNA MAJAAZI



Ketiga makna di atas, yaitu makna hakiki syar’I, makna hakiki urfi, dan makna hakiki lughawi, adalah makna hakiki (bukan majazi). Jika ketiganya tidak atau belum bisa memaknai suatu nash syara’, maka barulah suatu nash syara’ diartikan secara majazi, agar nash syara’ tidak tersia-siakan atau terabaikan. Kaidah ushuliyah menyebutkan bahwa “Idza ta’adzdzarat al-haqiqah yushaaru ila al-majaaz” (Jika suatu kata tak dapat diberi makna hakiki, maka dapat diartikan secara majazi). Dengan demikian, jika sebuah kata tidak dapat diberikan makna dalam makna hakikinya –yang secara urut mengikuti urutan makna hakiki syar’i, lalu makna hakiki urfi, dan kemudian makna hakiki lughawi– maka langkah terakhir adalah mengartikan kata tersebut dalam makna majazinya. Misalnya, hadits Nabi SAW “kullu ma’rufin shadaqah” (setiap kebajikan adalah sedekah) (HR. Muslim). Kata shadaqah dalam hadits ini, tidak dapat diartikan secara makna hakiki syar’i, urfi, atau lughawi. Imam An-Nawawi dalam kitabnya Sahih Muslim bi Syarhi An-Nawawi ketika mensyarah hadits di atas mengisyaratkan bahwa shadaqah di sini memiliki arti majazi, bukan arti yang hakiki. Menurut beliau, segala perbuatan yang baik dihitung sebagai shadaqah, karena disamakan dengan shadaqah (berupa harta) dari segi pahalanya (min haitsu tsawab).



Adapun mengapa urutannya harus makna hakiki syar’i, baru makna hakiki urfi, dan baru makna hakiki lughawi, hal ini disebabkan bahwa Rasulullah diutus untuk menjelaskan syariat (li bayan asy-syar’iyat). Itulah asumsi dasarnya, mengapa makna hakiki syar’i yang harus didahulukan, sebagaimana prinsip yang telah dijelaskan sebelumnya berdasarkan firman Allah SWT :



“Dan Kami turunkan kepadamu (Muhammad) Al-Qur`an agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (QS An-Nahl [16] : 44).



Maka dari itu nash-nash syara’ yang dibawa oleh Muhammad SAW, yaitu ayat-ayat Al-Qur`an dan hadits-hadits Nabi, wajib diartikan dalam makna syar’i terlebih dahulu (seperti pemaknaan kata sholat, shaum, jihad, Islam). Jika nash-nash syara’ tidak mempunyai arti secara syar’i, maka hendaklah diartikan lebih dahulu secara urfi (kalau ada), yaitu makna suatu kata yang menjadi urf (kebiasaan) pada masa Nabi SAW, sebab makna urfi itulah yang lebih dekat kepada pemahaman dan juga dikarenakan syara’ menganggap urf itu dapat dijadikan pegangan (mu’tabar) dalam banyak penerapan hukum. Jika nash-nash syara’ belum dapat dimaknai secara urfi barulah diartikan secara makna lughawi. Jika pemberian makna lughawi ini belum juga dapat dilaksanakan, barulah suatu nash atau istilah diartikan secara makna majazi. Hal itu karena dalam bahasa Arab, sebagaimana telah dijelaskan, suatu kata pada dasarnya hendaklah diartikan dalam makna hakikinya lebih dahulu (al-ashlu fi al-kalam al-haqiqah). Jika tidak dapat diartikan secara makna hakiki (baik makna hakiki syar’i, urfi, atau lughawi), barulah diartikan secara makna majazi (idza ta’adzdzarat al-haqiqah yushaaru ila al-majaaz).



KESIMPULAN



Salah satu masalah berat yang dihadapi umat Islam saat ini adalah ganasnya serangan pemikiran yang bertujuan mengacaukan dan mengaburkan bangunan pemikiran umat Islam yang sahih. Serangan itu antara lain berbentuk pemberian makna-makna baru terhadap istilah-istilah dalam khazanah pemikiran Islam, misalnya istilah “Islam”, yang hanya diberi arti sebagai “sikap berserah diri kepada Tuhan” , sehingga orang beragama apa pun, apakah beragama Islam, Kristen, Yahudi, Budha, dan sebagainya, adalah penganut “Islam” selama dia berserah diri kepada Tuhan. Juga istilah “jihad” yang hanya diberi pengertian “bersungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu”, terlepas dari arti dasarnya sebagai perang fisik (al-qital) di jalan Allah, sehingga kalau seseorang bersungguh-sungguh dalam bekerja atau belajar, maka dia telah melakukan “jihad”.



Distorsi pemikiran Islam dengan cara pemberian makna-makna baru (yang asing!) bagi istilah-istilah Islami ini sesungguhnya tidak boleh terjadi. Sebab Islam sendiri telah melarang umatnya menyalahgunakan atau mendistorsikan istilah, yaitu memberikan makna yang tidak sesuai dengan maksud sebenarnya dari sebuah istilah. Allah SWT berfirman :



“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan yang demikiran itu adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat) sesuangguhnya jual beli itu sama dengan riba.” (TQS Al-Baqarah : 275)



Lebih jauh lagi kita juga memelihat fenomena komunitas yang mencoba mendefinisi ulang kata atau istilah dengan serampangan menggunakan sebuah istilah yang sudah lazim dimasyarakat kemudian diartikan ulang oleh sekelompok kecil orang yang berada dimasyarakat tersebut.Misal sebuah komunitas entah atas dasar apa kemudian menggunakan kata wadam atau maho untuk melabeli diri dan anggota komunitasnya, padahal mereka semua muslim dan rata-rata memiliki pengetahuan lebih dalam keIslaman. Bahkan ada beberapa inisiator komunitas tersebut sering menisbatkan dirinya dengan panggilan wanita, bahkan memanggil teman-temannya dengan panggilan wanita, padahal mereka jelas pria tulen. Mereka beranggapan jika istilah wadam ini sudah mereka definisi ulang, meskipun tidak pernah jelas apa definisinya, intinya mereka menganggap bahwa istlah wadam yang mereka pakai berbeda dengan apa masyarakat kenal. Wadam singkatan dari wanita adam, dalam kamus diartikan sama dengan orang banci, bersifat antara laki-laki dan perempuan, laki-laki yang bertingkah-laku seperti perempuan, waria. Kesemua definisi ini secara umum berlaku dimasyarakat, dan bukan hanya secara istilah mereka melakukan penisbatan, tapi faktanya dalam perbuatan mereka melakukan seperti apa yang didefinisikan oleh kamus. Diantaranya memanggil temannya atau membahasakan dirinya dengan panggilan khas wanita atau banci, seperti : ciin, seus, jeng, tante, eike, teteh. Perbuatan seperti ini tanpa melihat lagi definisi yang dipakai jelas telah diharamkan Allah, bahkan dilaknat oleh Allah. Bahkan secara tidak sadar mereka telah menyerupai kaum wadam itu sendiri, dan hal ini berkonsekuensi berat. Rasulullah telah mengingatkan :



“Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Nabi SAW telah melaknat laki-laki yang bersikap (bersifat) menyerupai perempuan dan (melaknat) perempuan yang bersikap (bersifat) menyerupai laki-laki.” (HSR Bukhari 7/55)



“Ada tiga kelompok manusia yang tidak akan masuk surga : orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, Duyyuts (suami yang membiarkan istrinya melanggar larangan Allah dan Rasul-Nya), laki-laki yang menyerupai wanita” (HR Al Hakim)



“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka”. (HR Abu Dawud)



Kata atau istilah yang sebenarnya jelas saja oleh Allah dianjurkan tidak digunakan karena khawatir disimpangkan atau didefinisikan lain, apalagi kata dan istilah yang sudah jelas bertentangan dan tidak pantas disematkan kepada seorang muslim. Allah SWT berfirman :



“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): “Raa’ina”, tetapi katakanlah: “Unzhurna”, dan “dengarlah”. Dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih[80].” (TQS Al-Baqarah : 104)



Ayat ini dijelaskan oleh ahli tafsir sebagai berikut : “Raa ‘ina berarti: sudilah kiranya kamu memperhatikan kami. Di kala para sahabat menghadapkan kata ini kepada Rasulullah, orang Yahudipun memakai kata ini dengan digumam seakan-akan menyebut Raa’ina padahal yang mereka katakan ialah Ru’uunah yang berarti kebodohan yang sangat, sebagai ejekan kepada Rasulullah. Itulah sebabnya Allah menyuruh supaya sahabat-sahabat menukar perkataan Raa’ina dengan Unzhurna yang juga sama artinya dengan Raa’ina.”



Maka hati-hatilah karena Allah SWT sudah mengingatkan kita :



“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (TQS Al-Isra : 36)[]

Monday, February 21, 2011

Ceramah

“Ceramah Bulan Puasa”

Asslamualaikum wr. Wb.
Kaum muslimin/muslimah yg di rahmati Allah
Insya Allah pada hari ini saya akan membawakan ceramah saya yang bertema /berjudul

AZAB BAGI YANG MENINGGALKAN SHOLAT
KAUM YG DI MUSLIMIN/MUSLIMAH RAHMATI ALLAH
Sholat merupakan tiang agama, jadi barang siapa yg meninggalkan sholat berarti ia telah merubuhkan, dan barang siapa yg melaksanakan sholat berarti ia telah menegakkan agamanya ada sebuah hadis yg mengatakan bahwa;
Ashshalatu imaduddin waman aqaamaha faqad aqaamaddin waman tarakaha faqad aqqamaddin
Yang artinya
Sholat merupakan tiang agama barang siapa yg mendirikannya maka ia telah menegakkan agama nya
Dan barang siapa yg meninggalkannya berarti ia telah merubuhkan agama nya.
Dengan Demikian hadis di atas menjelaskan bahwa, sholat merupakan ibadah yg wajib di laksanakan oleh orang Islam,
Demikianlah ceramah yg saya bawakan semoga bermanfaat bagi kita semua lebih dan kurang nya saya mohon maaf karena manusia tdk ada yg sempuna hanya rokok yg namanya sempurna .
Minallahi mustaan wa ilaihi tiklan
Wassalamualaikum wr.wb.



WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)


Composed by Michael Heart

A blinding flash of white light

Lit up the sky over?Gaza?tonight

People running for cover

Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes

With ravaging fiery flames

And nothing remains

Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down

In the night, without a fight

You can burn up our mosques and our homes and our schools

But our spirit will never die

We will not go down

In Gaza tonight

Women and children?alike

Murdered and massacred night after night

While the so-called leaders of countries afar

Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain

And the bombs fell down like acid rain

But through the tears and the blood and the pain

You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down

In the night, without a fight

You can burn up our mosques and our homes and our schools

But our spirit will never die

We will not go down

In Gaza tonight